Senin, 28 Desember 2009

Terapi Air Oksigen untuk Autisme

Senin, 28 Desember 2009 |

Terapi Air Oksigen untuk Autisme

Tidak mudah bagi orang tua untuk mendengar diagnose autisme yang diberikan oleh dokter pada anaknya. Pasti ada perasaan shock, takut, putus asa dan bingung. Seperti kisah ibu anita berikut ini:

Sikecil Romy suka bermain sendirian sejak berumur 2 tahun. Ia sering marah dan gusar bila ditemenin bermain bocah ini juga cenderung cuek terhadap lingkungannya. Romy tidak mau menyahut jika dipanggil, ia ogah berkomunikasi dengan siapapun. Ia asyik dengan dirinya sendiri.

Awalnya, ibunda, Nyonya Anita, menganggap putranya tak punya kelainan. Ia menyangka, Putranya cuma ogah ditemani. Tetapi, karena kebiasaan itu tak kunjung berubah sampai usia 3 tahun, bunda Anita mulai khawatir. Ia lantas membawa si kecil ke ahli psikiatri. Hasil analisis psikiater, Romy mengalami autisme. Nyonya Anita kaget bukan kepalang setelah mengetahui kondisi putranya, mengingat selama ini anak autisme tergolong sulit ditangani. Nyonya Anita pun tak habis pikir mengapa anaknya bisa terkena autism, mungkin hal ini juga dialami oleh anda dan keluarga ?

Ada banyak sekali teori mengenai penyebab Autism, mulai dari gangguan metabolism, keracunan bahan toksik, seperti mercury yang diklaim masuk ke tubuh anak dari imunisasi yang mengandung themirosal, sampai kelainan genetik. Juga adanya multiple food allergy, gangguan pencernaan, peradangan dinding usus, adanya exomorphin dalam otak (yang terjadi dari casein dan gluten), gangguan kesimbangan mineral tubuh, dan keracunan logam berat seperti timbal, (pb), mercury (Hg), Arsen (As), Cadminium (Cd), dan Antimoni(Sb). Logam-logam berat diatas semuanya berupa racun otak yang kuat . Belum lagi teori mitocondrial dysfunction, dan oxydative stress.

Hal-hal diatas diklaim mempengaruhi susunan saraf pusat sedemikian rupa, sehingga fungsi otak terganggu. Gangguan tersebut bisa memperberat gejala autisme yang sudah ada, atau bahkan bisa juga bekerja sebagai sebagai pencetus dari gejala timbulnya autisme.

Kaitan genetik dengan autisme muncul dari pernyataan Steven Scherer, peneliti di Unversitas Toronto Canada. Ia bersama para ilmuwan dari sejumlah negara melakukan penelitian tentang autisme yang didanai Autisme Genome Project cabang Canada. Scherer bersama para ilmuwan dari sembilan negara mengumpulkan gen dari 1.168 keluarga dan menyimpulkan bahwa 90% dari penyebab autisme adalah ‘gen’, seperti dikutip oleh ABCnews.com, senin pekan silam. Ia menyatakan bahwa studi itu belum tuntas. Kemungkinan Scherer bisa merampungkan penelitian singkat tiga tahun lagi.

Mengetahui gejala Autisme untuk agar terdiagnosa lebih dini bisa sangat membantu . Caranya dapat anda lakukan dengan beberapa langkah, pertama, perhatikan kemampuan bicara anak, 40% anak autis tidak pernah bicara . atau anak sering membeo tetapi tidak bermaksud bercanda, atau bicara dengan nada monoton, dan tidak bisa mengontrol kekerasan suaranya. Langkah kedua coba perhatikan apakah anak anda memiliki keterikatan yang tidak normal terhadap benda tertentu. Sering meutar mainan atau menjatuhkan secara sengaja secara terus menerus, atau selalu menyusun mainan dalam susunan yang sama. Ketiga perhatikan apakah anak anda senang menatap sinar terang dari televisi misalnya. Dan terakhir apakah anak anda punya kebiasaan makan di kursi yang sama dengan makanan dan waktu yang sama setiap hari? Hal-hal tersebut diatas bisa jadi merupakan gejala autism.

Pengobatan autis sangat banyak dan seringkali tidak disertai dasar sains untuk mendukung efektifitasnya. Mulai dari NAET sampai theraphy lumba-lumba , dengan bukti kesembuhan yang belum jelas. Juga penguunaan obat psikoaktif seperti antikonvulsan, antidepresan, stimulan, dsb.
Anak autis punya respon yang beragam dalam menjalanim pengobatan ini, namun mengingat efek samping yang merugikan, pengobatan dengan obat psikoaktif mulai ditinggalkan.

Tidak ada pengobatan tunggal untuk membantu anak autis secara maksimal. Gabungan dari pendidikan dini khusus, terapi wicara, terapi kemampuan sosial , dll. Tujuan utama pengobatan autis adalah untu mengurangi kelainan pada anak dan stress pada keluarga, juga untuk meningkatkan kualitas hidup dan kemandirian anak kelak.

Pengobatan autis sangat mahal, apalagi jika menghitung biaya tidak langsung dalam pengobatannya. Sebuah penelitian menghitung biaya rata-rata 3.2 juta dolar pada tahun 2003 untuk anak-anak autis yang lahir di tahun 2000, dengan rincian biaya medis 10% , pendidikan ekstra khusus autis 30%, dan 60% dari hilangnya potensi produktifitas dari orang tua maupun anak autis kelak setelah dewasa. Bagi keluarga yang tidak memiliki polis asuransi bagi anaknya, maka biaya ini dapat membuat mereka jatuh dalam masalah keuangan.

Belakangan ini penggunaan oksigen untuk menangani autis mulai menjamur. Hasilnya sangat bervariasi, namun banyak laporan dari keluarga penderita autism bahwa hasilnya sangat memuaskan sehingga ini tentu saja merupakan harapan baru dalam pengobatan autism. Salah satu metode pemberian oksigen kepada anak autis adalah dengan Hyperbaric Oxygen Theraphy (HBOT).

HBOT meningkatkan konsentrasi oksigen pada jaringan otak, sehingga memungkinkan tubuh untuk memperbaiki metabolism jaringan otak, menerima nutrisi dan memperbaiki kerusakan. Terutama bagi sel otak yang sedang “diam”, kondisinya baik tetapi tidak tahu bagaimana untuk berfungsi normal. Kadar oksigen yang tinggi mengurangi pembengkakan atau kelebihan cairan pada otak yang mungkin menekan otak sehingga fungsinya terganggu.

Banyak ilmuwan setuju tentang besarnya peranan oksigen dalam tejadinya penyakit. Kekurangan oksigen menimbulkan banyak gangguan, tetapi kelebihan oksigen pun dapat memicu stress oksidatif yang dapat menjadi lebih parah dengan pemberian oksigen secara langsung.



Related Posts



0 komentar:

Posting Komentar