Senin, 28 Desember 2009

Metode Khusus untuk Anak Autis

Senin, 28 Desember 2009 |
Metode Khusus untuk Anak Autis

Sindo, 06 May 2009
TAK hanya anak normal yang berhak mendapat pendidikan, anak penyandang autis pun memiliki hak yang sama. Pemerintah malah mengimbau kepada para penyandang autis harus mendapatkan perhatian khusus.

Undang-undang mengatakan bahwa semua warga Indonesia berhak mendapatkan pendidikan yang sama. UU Sisdiknas No 20 Tahun 2003 mengamanatkan pemerintah untuk menyelenggarakan pendidikan bagi semua masyarakat. Direktur Pembinaan Sekolah Luar Biasa Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah (Mandikdasmen) Departemen Pendidikan Eko Djatmiko Sukarso mengatakan, ”Pemerintah mengakui dan melaksanakan pendidikan khusus (PK) dan pendidikan layanan khusus (PLK) bagi penyandang autis,”sebutnya.

Menurut dia, semua hal yang terkait dengan pembelajaran untuk anak-anak autis berpedoman kepada Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).Namun begitu, Eko menyebutkan, Diknas memberikan kebebasan kepada masing-masing sekolah untuk menentukan kurikulum bagi penyandang Autis.Alasannya, karena setiap sekolah memiliki kebutuhan yang berbeda dalam mendidik penyandang autis.

Untuk memastikan penyandang autis mendapatkan pendidikan dengan kualitas yang baik, Diknas telah mengisyaratkan kepada semua sekolah autis di Indonesia agar tidak mempekerjakan guru yang tidak memiliki sertifikat yang terkait dengan penyandang autis. Penyandang autis harus mendapatkan perhatian yang khusus. Data yang dimiliki Departemen Nasional menyebutkan, jumlah penyandang autis yang mengikuti pendidikan layanan khusus ternyata masuk lima besar masyarakat.

Di Indonesia, sekolah yang khusus menangani autis hingga kini berjumlah 1.752 sekolah. Jakarta sendiri memiliki 111 sekolah untuk para penyandang autis. Sudah barang tentu kurikulum dan pendekatan yang diberikan sekolah berkebutuhan khusus ini pun berbeda dari sekolah pada umumnya. Psikolog dari sekolah khusus autis Mandiga Dyah Puspita mengatakan, kurikulum untuk autis, bahkan dibuat berbeda untuk tiap individu.

Mengingat masing-masing individu memiliki kendala dan kebutuhan tersendiri. Misalnya ada anak yang butuh diajarkan komunikasi dengan intensif,ada yang perlu belajar bagaimana mengurus dirinya sendiri. Sementara ada pula yang perlu hanya fokus pada masalah akademis. Untuk itu,beragam terapi yang berbeda pun diberikan kepada anak-anak penderita autis.Kepala Sekolah AGCA Centre Bekasi Ira Christiana mengatakan, sekolahnya memiliki berbagai macam bentuk terapi bagi penyandang autis.

Di antaranya, terapi terpadu, wicara, integritas,dan fisioterapi.”Terapi apa yang diberikan tergantung dari kondisi anaknya,”katanya. Perlakuan terhadap penyandang autis di atas umur lima tahun, berbeda dengan penyandang autis di bawah umur lima tahun.Terapi penyandang autis di atas umur lima tahun lebih kepada pengembangan bina diri agar dapat bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. ”Ini wajib hukumnya karena mereka sudah waktunya untuk sekolah,” ujar Ira.

Jika penyandang autis yang berumur di atas lima tahun belum bisa bersosialisasi sama sekali,maka akan diberikan pelatihan tambahan yang mengarah kepada peningkatan saraf motorik kasar dan halus. Sebaliknya, penyandang autis yang sudah bisa bersosialisasi, maka akan langsung ditempatkan di sekolah reguler. Dengan catatan, mereka harus tetap mengikuti pelajaran tambahan di sekolah khusus penyandang autis. Penyandang autis di bawah lima tahun diberikan terapi terpadu seperti terapi perilaku dan wicara.

Terapi perilaku bertujuan untuk meningkatkan kepatuhan,meniru, dan okupasi.Terapi wicara dimulai dengan melakukan hal-hal yang sederhana, seperti meniup lilin, tisu, maupun melafalkan huruf A dan melafalkan konsonan. Bagi pelaku pendidikan yang berkecimpung dalam dunia pengajaran untuk anak autis ini mengaku, mereka mendapatkan kebahagiaan tersendiri bila melihat siswa didiknya ditempatkan di sekolah reguler.”Itu berati kami berhasil mendidik mereka (siswa) sehingga mereka dapat bergaul dengan teman yang normal,”kata Ira.

Rasa senang tak pelak menghampiri Ira jika siswa didiknya mengalami kemajuan yang pesat. Seperti jika mereka mampu menyebut kata mama atau papa. Menurut Ira,kemajuan setiap anak berbeda, tergantung dari kemampuan mereka menerima rangsangan dari luar. Di tengah segala keterbatasan yang dimiliki, anak-anak berkebutuhan khusus pun memiliki bakat tersendiri. Di sinilah peran orang tua untuk melihat secara jeli bakat yang dimiliki anak.

Theresia Tristini menyadari bahwa putranya, Ryan, memiliki bakat melukis. Kendati penyandang autis,dengan lincah Ryan mengoleskan kuas di atas kanvas.”Lewat melukis,Ryan seakan mengomunikasikan pikirannya dan membuatnya menjadi ekspresif,”ujarnya. Menurut pelukis Alianto yang kerap mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus, pada usia lima tahun mereka sudah dapat diarahkan untuk melukis.

Dan jika kemampuan itu terus diasah, dalam kurun waktu hampir empat tahun, para pelukis muda yang menyandang autis tersebut, telah dapat melukis dengan lebih baik. ”Tergantung dari si anak sendiri,” kata Alianto yang juga merupakan pemilik Rumah Belajar ini. Alianto mengaku, untuk membimbing anak-anak berkebutuhan khusus ini tidaklah mudah.Karenanya, membutuhkan pendekatan tersendiri agar si anak mau melukis dan dapat bekerja dengan fokus.

”Awalnya saya menyuruh mereka menggambar sebuah objek. Lalu saya bilang, ‘kalau hanya satu gambarnya kurang bagus’.Mereka lalu menggambar objek lain untuk melengkapi lukisan,”ujar Alianto. Alianto menambahkan, sebenarnya setiap anak yang sedang melukis, sebaiknya didampingi orang tua.Terlebih lagi mereka yang berkebutuhan khusus tersebut. Sayangnya, masih banyak orang tua dari anak berkebutuhan khusus ini, yang tidak memperhatikan pentingnya ihwal pendampingan tersebut dan hanya menyerahkan sepenuhnya kepada guru lukisnya.

Hal ini dibenarkan ketua Yayasan Autisma Indonesia dr Melly Budhiman. Menurut dia, proses pendampingan tersebut bertujuan memberikan motivasi kepada sang anak dalam mengembangkan karya mereka. Bagi anak-anak berkebutuhan khusus ini,melukis bukan sekadar pemuas hobi. Lebih dari itu,melukis berfungsi sebagai terapi untuk melatih motorik si anak. (sri noviarni)
Pemutakhiran Terakhir ( Sabtu, 09 Mei 2009 20:59 )

Potensi Individu Autistik Bisa Dikembangkan Optimal
Email Cetak PDF

Individu autistik selama ini dianggap sebagai abnormal, kondisi yang buruk dan harus dihilangkan, sehingga dalam penanganannya cenderung keliru. Makanya, tak mengherankan, usaha-usaha untuk memahami spektrum autistik selalu menyisakan tanda tanya dan misteri. Padahal, kalau dipahami dengan perspektif yang berbeda, seperti dengan presumption of competence, maka potensi kreatif individu austistik bisa dikembangkan secara mengagumkan.
Demikian pemikiran yang mengemuka dalam orasi ilmiah psikolog Dr Adriana S Ginanjar MS, pada Dias Natalis Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Selasa (3/3) di kampus UI, Depok. Tesis pemikiran itu berdasarkan pengalaman panjang Adriana yang memiliki anak autistik dan mendirikan sekolah khusus untuk anak-anak autistik.

"Anak autistik mesti dipandang sebagai sebuah perbedaan dan bukan sebagai abnormal. Penanganannya harus lebih difokuskan untuk mengenali dan mengembangkan potensi mereka. Karena, walaupun memiliki sejumlah kekurangan, masing-masing anak autistik memiliki potensi-potensi kreatif. Kemampuan yang menonjol pada bidang tertentu. Di samping itu, interaksi dan proses belajar-mengajar perlu didasari oleh penerimaan dan empati, agar terjalin hubungan yang dilandasi rasa percaya, rasa aman, dan penghargaan tanpa syarat, yang amat penting dalam membantu perkembangan emosi dan interaksi sosial mereka," katanya.

Menurut Adriana, selama ini penanganan anak-anak autistik mengikuti perkembangan penanganan di negara-negara barat. Memang, pemberian penanganan secara terpadu, intensif, dan dimulai sejak usia dini memberikan hasil yang positif, yaitu membantu anak-anak autistik untuk beradaptasi dengan lingkungannya dan belajar berbagai kemampuan kognitif.

Sayangnya, sebagian besar penanganannya lebih menekankan pada kekurangan atau defisit dan berusaha mengarahkan mereka menjadi seperti anak-anak normal.

Ada dua kelemahan yang ditemukan Adriana dalam penanganan yang mengarahkan anak-anak autistik menjadi seperti anak-anak normal, yaitu, pertama, kriteria anak normal merupakan hal yang sulit untuk dirumuskan.

Bahkan, sampai saat ini belum ada titik temu dari berbagai pandangan tentang tingkah laku normal dan abnormal. Defenisi normal amat terikat pada konteks budaya, konteks sosial, dan dimensi waktu, sehingga tidak dapat digeneralisasi begitu saja. Kedua, pemberian label abnormal berdampak negatif pada perkembangan psikologis mereka.

Pandangan tentang austime sebagai abnormalitas ditolak keras oleh para individu autistik. Mereka merasa sangat tidak nyaman bila dipandang sebagai individu yang tidak normal, serta hanya dinilai berdasarkan defisit yang dimiliki. "Mereka juga tidak menginginkan diri mereka diubah menjadi individu normal," paparnya.

Psikolog Adriana berpendapat, kompleksitas autisme yang terungkap melalui serangkaian penelitian disertasi yang ia lakukan, menunjukkan bahwa untuk dapat memahami individu autustik dibutuhkan kerangka berpikir holistik, yaitu yang memandang setiap individu sebagai kesatuan dari taraf-taraf sensorik, kognitif, emosi, interaksi sosial, serta agama dan spiritualitas.

Belajar dari kisah sukses individu autistik, demikian Adriana, cara terbaik memahami mereka adalah dengan berusaha mengenali mereka tanpa predisposisi tertentu, apalagi membandingkan mereka d engan individu normal. "Kita harus menggunakan perspektif holistik dan positif, yaitu memandang mereka sebagai individu yang utuh dan memiliki potensi-potensi kreatif," tandas.


Pemutakhiran Terakhir ( Sabtu, 09 Mei 2009 21:00 )

Vaksin MMR Bukan Penyebab Autisme

KEKHAWATIRAN para orangtua akan isu vaksin yang dapat menyebabkan austisme tampaknya akan semakin pudar. Sebuah riset di Amerika Serikat (AS) membuktikan, tidak hubungan sama sekali antara autisme dengan pemberian vaksin MMR (measles, mumps, rubella).

Riset yang telah dipubliskasi Rabu kemarin dalam jurnalPublic Library of Science edisi online ini adalah penelitian yang mematahkan riset sebelumnya oleh Dr Andrew Wakefield dari Royal Free Hospital, Inggris. Dalam risetnya yang kemudian ditarik dari jurnal Lancet, Wakefield mengindikasikan adanya kaitan antara vaksin MMR dan autisme.

Para ahli dari Columbia University New York dan Centers for Disease Control (CDC) membantah indikasi riset Wakefield setelah meneliti sinyal-sinyal penanda genetika dari virusmeasles (campak) pada sampel jaringan usus 25 anak pengidap autisme yang juga menderita gangguan pencernaan.

Pemutakhiran Terakhir ( Sabtu, 09 Mei 2009 20:37 )


Related Posts



1 komentar:

Unknown mengatakan...

Kami adalah sekolah khusus autisme Al-Ihsan yang menyelenggarakan pendidikan TK, SD, SMP, SMA, dan terapi untuk anak autis. untuk info klik www.sekolahautismeal-ihsan.com

Posting Komentar